Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2014

و لا عدوان إلا على الظالمين

Betapa indahnya
***
                Diceritakan, beberapa zaman yang lalu. Pada saat tablet—yang obat—pun masih sangat asing dengan bangsa ini. Diceritakan bahwa ada seorang kiai muda yang sowan kepada kiai sepuh. Dalam kunjungannya, beliau meminta doa restu dan cara agar angan-angan beliau—kiai muda—itu tercapai. Angan-angan apa? Membuat seluruh rakyat Indonesia menjadi muslim. Semuanya. Lalu kiai sepuh itu bergegas mengambil al-Qur’an di dekatnya dan lantas membukanya. Beliau—kiai sepuh—memberikan Qur’an tersebut kepada kiai muda, dan berkata, “Mas, kalau sampeyan ingin angan-angan sampeyan tercapai, 

Kamis, 15 Mei 2014

Islam, dan Yang Lain



Islam, secara bahasa ialah selamat. Selamat diambil dari kata Salima yang berarti selamat yang akhirnya dari Salima itu terbentuk kata aslama yang berarti patuh, tunduk, atau menyerahkan diri. Dan secara istilah, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan barlaku bagi seluruh manusia (dan bahkan seluruh alam), di manapun, dan kapanpun. Dan itulah sebagaimana Islam yang kita tahu dan telah kita jalani selama ini—dan semoga sampai mati.
Di sini tentu saya tidak akan mengolok-olok agama lain sebagai agama seperti yang orang-orang di dunia maya lakukan. Marilah bersama menjadi bangsa yang benar-benar bermartabat. Di sini hanya akan ada opini singkat tentang bagaimana—sebagai agamis—menyikapi adanya begitu banyak perbedaan yang akan kita hadapi. Mengapa di sini tidak akan ada olok-olok terhadap agama lain? Tentu bukan karena saya adalah orang yang tidak yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Lalu mengapa? Karena olok-olok itu memang tak perlu disisipkan di sini. Tak berfaedah. Karena toh mereka juga tidak akan mengalah terhadap kita. Akan terjadi pertarungan ego yang tidak akan ada habisnya. Di sini juga tidak akan berfaedah jika penulis akan menunjukkan kelemahan-kelemahan agama lain. Karena toh mereka tidak—mau—membaca tulisan ini, atau tidak—percaya—setelah mereka membaca tulisan ini. Karena—sekali lagi—egoisme. Dan jika para pembaca masih saja ingin membaca olok-olok dan hinaan kepada umat lain, di dunia maya tersedia berjuta-juta kata untuk itu. Dan di situ banyak juga kesalahan dan kelemahan pada agama mereka. Jika para pembaca inginkannya, maaf di sini tak ada.