Islam, secara
bahasa ialah selamat. Selamat diambil dari kata Salima yang berarti
selamat yang akhirnya dari Salima itu terbentuk kata aslama yang
berarti patuh, tunduk, atau menyerahkan diri. Dan secara istilah, Islam adalah agama
wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan Allah SWT kepada
Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan barlaku bagi seluruh
manusia (dan bahkan seluruh alam), di manapun, dan kapanpun. Dan itulah
sebagaimana Islam yang kita tahu dan telah kita jalani selama ini—dan semoga
sampai mati.
Di sini tentu saya tidak akan mengolok-olok agama lain sebagai agama
seperti yang orang-orang di dunia maya lakukan. Marilah bersama menjadi bangsa
yang benar-benar bermartabat. Di sini hanya akan ada opini singkat tentang
bagaimana—sebagai agamis—menyikapi adanya begitu banyak perbedaan yang akan
kita hadapi. Mengapa di sini tidak akan ada olok-olok terhadap agama lain?
Tentu bukan karena saya adalah orang yang tidak yakin bahwa Islam adalah agama
yang paling benar. Lalu mengapa? Karena olok-olok itu memang tak perlu
disisipkan di sini. Tak berfaedah. Karena toh mereka juga tidak akan
mengalah terhadap kita. Akan terjadi pertarungan ego yang tidak akan ada
habisnya. Di sini juga tidak akan berfaedah jika penulis akan menunjukkan
kelemahan-kelemahan agama lain. Karena toh mereka tidak—mau—membaca
tulisan ini, atau tidak—percaya—setelah mereka membaca tulisan ini.
Karena—sekali lagi—egoisme. Dan jika para pembaca masih saja ingin membaca
olok-olok dan hinaan kepada umat lain, di dunia maya tersedia berjuta-juta kata
untuk itu. Dan di situ banyak juga kesalahan dan kelemahan pada agama mereka.
Jika para pembaca inginkannya, maaf di sini tak ada.