Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juni 2014

Kejahatan Samar nan Kejam

Kejahatan tidak melulu soal pisau dan parang, bahkan kejahatan yang tidak kenal pisau dan parang lebih jahat dan garang
***

Kamis, 22 Mei 2014

Didik, atau Ajar?

                Dalam satu kesempatan, saya berkesempatan ngaji bareng KH. Mustofa Bisri. Dalam pengajiannya, beliau menyinggung banyak tentang kependidikan. Dan salah satu bahasannya adalah yang selama itu menghantui saya. Pendidikan di Indonesia, itu sebenarnya belum/kurang tepat. Kurang tepat karena namanya adalah pendidikan, tapi nyatanya yang ada di lembaga-lembaga—yang mereka sebut—pendidikan, hanyalah pengajaran. Pendidikan dan pengajaran ini  dua hal yang berbeda jauh lho. Pendidikan, dengan kata dasar didik, artinya pendidikan itu adalah di mana guru mendidik muridnya. 

Matematika. Logika dan Bahasa

Mungkin inilah penyebab utama
***

                Dalam pendidikan, masa-masa awal adalah masa yang paling penting untuk diperhatikan. Karena di situlah fondasi mulai ada. Dan fondasi tersebut akan mengantarkan kita ke mana kita akan berjalan. Di atas fondasi tersebut akan dibangun warung kelontong atau menara besar. Akan dibangun apartemen besar dan kokoh atau rumah ibadah. Dibangun gubuk ataukah sekolah. Seenak kita saja membangunnya,  yang penting cocok dengan fondasinya. Jika kita dari awal sudah mantap memilih fondasi untuk rumah ibadah, ya kita mau tidak mau kita tidak bisa membangun menara yang lebih tinggi dan berat. 

Senin, 19 Mei 2014

Errr ..



Saya hanya sebal. Sebal sekali. Hmm .. sebal itu bukan ‘hanya’ sih. Heuheu. Mungkin karena saya agak ambisius dan perfeksionis, jadi seringkali sebal. Mudah sebal. Sebal. Sebal.
***
                Adakah di sini—para pembaca—yang merasa kurang sreg dengan—mereka sebut sih—pendidikan—yang sebenarnya lebih pantas disebut pengajaran—formal di sekitar kita? Di negeri ini? Formal itu berarti tertata, terorganisir, dan diakui oleh lembaga formal—resmi—negara. Adakah? Atau hanya saya? Karena keambisiusan saya saja mungkin ..
                Yang membuat saya sebal dan gemas pada—yang katanya—pendidikan—padahal pengajaran—adalah .. keegoisan yang membuat sikap memaksa untuk melaksanakan sesuatu, padahal banyak hal yang harusnya dirapikan, diselesaikan, dituntaskan terlebih dahulu. Seharusnya tidak usah memaksakan kehendak untuk sesuatu tertentu yang akhirnya meninggalkan dan melupakan hal-hal vital yang masih mengambang.

Masih tidak jelas kalimat-kalimat yang  kalian baca, mungkin. Mari saya lebih jelaskan.

Selasa, 29 April 2014

Syukur, Syukur!

Bahagia itu mudah. Kata para pemikir khusus, bahagia itu sederhana. Bagi kami—para manusia malam—bahagia itu mudah. Dan kebahagiaan kami tidak sesederhana kebahagiaan mereka. Kebahagiaan kami lebih kompleks, lengkap nan menawan. Kebahagiaan kami didapat dengan cara yang lebih sederhana dari mereka.
            Kebahagiaan dalam diri kami sangatlah mudah didapat, itu karena kehidupan kami memang melulu soal bagaimana bahagia dan tidak mengeluh. Mereka—manusia khusus—bersulit-sulit untuk untuk ‘dapatkan’ kebahagiaan—yang padahal ada setiap saat. Yaaa, karena mereka terus mempermasalahkan masalah-masalah yang mereka buat sendiri. Mereka setiap harinya juga belajar, bekerja dalam tekanan. Bak hidup dalam panci presto.

Pemikir Khusus vs Pemikir 'Biasa-Biasa Saja'

Dunia insomnia itu indah sekali. Seindah pemikiran para penduduknya di sana. Jauh sekali berbeda dengan dunia para pemikir khusus pagi sampai siang. Mengapa khusus? Ya karena mereka jarang atau mungkin tidak pernah berpikir di luar waktu itu. Para pemikir khusus ini, kebanyakan para pemikir yang—berpura-pura—berpikir hal-hal yang sangat banyak. Dan kebanyakan disebabkan oleh ketidaktahuan mereka dengan pondasi hal-hal yang harus dipikirkan itu. Hmm .. banyak juga yang—pura-pura—berpikir agar dia tetap dianggap dalam suatu komunitas tersebut. Konsekuensi jahat nan tidak adil telah mengadili mereka bertahun-tahun lamanya. Dalam sistem pemikiran mereka, mereka harus menempuh waktu tertentu untuk belajar dan mendapatkan sertifikasi untuk dipajang di tempat tinggal mereka. Sebelum mendapatkan pajangan itu, mereka berkali-kali mendapatkan hari-hari khusus untuk berpusing di dalamnya. Mereka dicerca pertanyaan-pertanyaan yang isinya menanyakan beberapa hal yang dia—pura-pura—pikirkan beberapa waktu sebelumnya. Mereka harus mengingat-ingat hal-hal itu. Pada periode ini, mereka dalam fase sulitnya. Yaa, karena hal-hal yang mereka pikirkan itu jarang atau tidak pernah mereka ingat-ingat dan pikirkan sehari-harinya. Karena kesalahan mereka sendiri itu, tak ayal mereka mengeluh di sana-sini. Yaa mereka mengeluh karena mereka berpikir atas dasar bukan pemikiran mereka. Heuheu.

Sabtu, 13 April 2013

Tidak Etis, Atau?




Setelah beberapa hari lalu melihat mading sekolah, atau tepatnya karikaturnya saja. Yang isinya perbedaan—atau lebih tepatnya perbandingan—antara guru lama/kuno dengan guru modern. Guru kuno digambarkan sebagai berikut: Kemeja lusuh, begitu juga dengan celananya, ditakuti murid, motor butut, tidak sehat, tidak digaji tetap, tidak sejahtera. Sedangkan guru modern digambarkan: mobil sport, kemeja bagus, tidak beda keren dengan celananya, tablet PC, smartphone, wajah menarik, digemari murid, rambut stylish, badan kekar, gaji tetap, sejahtera. Saya agaknya merasakan keganjilan di situ, yakni sangat jelas bahwa gaji, disandingkan dengan kesejahteraan. Salah satu bukti bahwa kita masih materialistis. Inilah yang ada sekarang, semua dibandingkan dengan uang. Memang salah satu sebab kesejahteraan adalah uang, tapi apakah tidak cukup etis kita membanding-bandingkan dua pahlawan yang sudah jelas hidup di masa yang berbeda? Guru kuno/dulu, memang hidup dengan sedemikian sederhana, karena memang masanya begitu. Guru kuno ditakuti? bukan, beliau disegani, karena kesederhanaan beliau dan sifat tawadhu'nya. Dan pendapat saya, guru kuno/dulu masih lebih superior daripada guru modern, itu ditunjukkan dengan hasil didikan beliau yang memang agak jauh perbedaannya. Bisa jadi itu karena kesederhanaan beliau dalam mengajar. Itu bisa menjadi contoh yang luar biasa bagi para murid. Tidak seperti penggambaran yang berlebihan tentang guru modern/masa kini oleh pembuatnya. Para guru modern pun agaknya sulit menerima itu, beliau tidak mau seperti itu. Menurut saya juga, itu bisa menjadi penghinaan bagi para guru modern. Karena mungkin tidak sesuai realita. Saya juga berharap itu bukan merupakan hasil pikiran mereka sendiri. Sudah kita ketahui, guru itu panutan, jika saja panutannya seperti apa yang mereka gambarkan, bagaimana dengan para murid? Dalam al-Qur'an dijelasknan, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan".


Sudah Pantaskan Kita?





Miris melihat guru sendiri tidak bisa mem-posisikan diri sebagai guru SMA, mungkin masih terbawa aroma bocah SD. Tapi sebagai professional, bahkan sedah mengajar di sekolah lebih dari 5 tahun, hal seperti itu adalaha hal yang tabu. Bagaimana bisa? Temen-temen saya saja bisa mengajar adik-adiknya dengan baik. Jika sistem pengajaran seorang guru tidak dikembangkan dengan baik, para murid akan bosan dan sulit menerima pelajaran. Belum lagi tanggungan guru di Madrasah. Di Madrasah guru itu dapat amanah, tidak mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban, atau bahkan—na’udzubillah—hanya untuk memeroleh beberapa peser uang.