Kamis, 04 Mei 2017

Rindu?

Kita sudah tahu sekali gambar salah satu presiden Indonesia dengan tangannya yang dibuka, lalu di sebelahnya ada kalimat, “Piye? Enak jamanku to?”.
Melihat dan membacanya, saya kadang tersenyum, dan terkadang sedih. Ini adalah satu bukti bahwa masih banyak orang yang merindukan kepemimpinannya. Sudah 19 tahun lamanya pemerintahan negara ini ditinggalkannya. Di 19 tahun itu juga, masih banyak orang yang menginginkan suatu saat nanti, akan ada presiden semacamnya lagi yang menjadi presiden. Tommy? Eh.
Baru-baru ini aku menjalani hidup dengan agak aneh. Tanpa ada interaksi dengan seseorang yang sebelumnya begitu aktif membunyikan notifikasi whatsapp-ku. Perlu diketahui—ini tak penting-penting amat sebenarnya—bahwa ada dua bunyi notifikasi, yaitu untuk grup, dan notifikasi pesan pribadi. Seperti yang sudah kuceritakan, hampir saja ponselku lupa notifikasi model apa yang harus dibunyikan ketika ada pesan pribadi masuk. Intinya, ada sesuatu yang menghilang dari kebiasaan. Ini bisa jadi juga menjadi keuntungan bagiku sekaligus kerugian di saat yang sama. Aku terkadang merasa rindu. Tentu saja. Rindu ini tentu kadang membohongi kita. Terkadang merugikan kita. Kita seakan akan lupa akan hal apa yang kita sangat tidak suka. Yang penting kangen. Wis. Rindu membuat kita buta akan hal-hal yang sebenarnya tidak kita inginkan, tapi karena ada hal yang serasa hilang, rindu akan memaksa kita untuk kembali ke masa itu.

Entah ini nyambung atau tidak. Perihal rindu akan dia dan rindu akan presiden yang sedari tadi kubicarakan ini agaknya sama. Kita dibuat lupa akan hal-hal yang tidak kita suka. Pemberedelan media, penghilangan jasad atau nyawa, pembantaian, dan pertumbuhan ekonomi yang hanya untuk sanak keluarga seakan hilang begitu saja ketika kita merasa kehilangan sosoknya. Mungkin kita bisa merasa kehilangan dia karena kita sudah terlalu lama dipimpin olehnya.
Jangan biarkan rindumu membelenggu hidupmu. Aku sebagai jomblo tentu tidak bisa merindukan siapapun. Apalagi presiden yang kusebut-sebut dari tadi itu. Ciao!

Kamis, 13 April 2017

Babi Adalah Kita

Beberapa waktu ini, kurang lebih tiga tulisan yang harusnya bisa kutulis, tetapi setelah beberapa paragraf rampung, tulisan itu kuhapus semuanya, dan aku menatap langit, tanpa daya.
Pertama, aku gagal menulis tulisan yang menyoal Zakir Naik karena pada ujungnya, aku merasa bahwa tulisanku tentang itu tak obyektif-obyektif amat, di lain tulisan itu mungkin tak begitu diminati karena aku menulis beberapa hal yang cukup teknis. Hal teknis ini mungkin sulit untuk ditulis tidak menggunakan bahasa teknis karena memang begitu adanya. Di lain itu, aku juga kehabisan referensi untuk menulis soal dia. Karena banyak terlalu banyak ketidaksetujuanku soal dia yang seakan itu akan membuat tulisanku berbau naif, berbau sekali.
Kedua, aku gagal menulis karena ketika aku ingin menulis soal Luis Enrique dan egonya yang ia pupuk, aku gagal bahkan ketika aku masuk paragraf kedua. Ketika itu aku mencari referensi tentang bagaimana ia bergelut di dunia sepakbola dan akhirnya bisa menjadi seperti ini. ketika aku mencari referensi-referensi itu, aku menemukan tulisan dari Bang Pange (Pangeran Siahaan) yang di situ banyak sekali pujian dan rasa terimakasih terhadap Zen RS yang membuatnya bisa menulis seperti saat ini. setelah membaca itu, aku merasa menjadi debu di sandal jepit mereka berdua. Aku ndingkluk, dan menghapus semua huruf di paragraf pertama, lengkap dengan judulnya.
Ketiga, ketika aku ingin curhat soal apa yang sedang akan kukerjakan sekarang, aku memulai dengan kalimat yang begitu identik dengan kalimat-kalimat yang telah kugunakan di tulisan lain. Historikal. Tulisan-tulisanku tak variatif cenderung membosankan. Aku berpikir-pikir tentang bagaimana aku bisa menulis dengan model yang lain, dan akhirnya gagal. Hasilnya adalah tulisan ini, yang juga sama historikalnya dengan tulisan-tulisan sebelumnya.
Aku adalah babi yang tak tahu aku babi.

Sabtu, 01 April 2017

2002 dan Endorse Susu

Entah apa yang membuatku suka bermain bola. Bola, dalam hal ini adalah sepakbola. Aku masih sangat ingat ketika aku mengganggu jalannya nonton bareng final piala dunia 2002 antara Brasil melawan Jerman. Untukku, itu salah satu bukti bahwa pada tahun itu, aku masih mah moh pada bola. Singkat waktu, di suatu siang, ketika aku sedang leyeh-leyeh di kamar, seorang kawan mengajakku bermain bola. Ketika itu, aku ikuti saja apa katanya. Tanpa aku tahu apa itu sepakbola. daripada aku menganggur, pikirku saat itu. Lalu beberapa minggu lagi, ia yang harus mendengarkan teriakanku dari luar kamarnya. Meminta hal yang sama. Mulai saat itulah aku menjadi bocah yang gila bola. Aku mencuri-curi waktu untuk bermain bola ketika masih berada di sekolah. Sepulangku dari sekolah, aku mengerjakan tugas sekolah sampai tuntas—ya, aku memang sangat rajin perihal seperti ini, paling tidak, dahulu kala. Setelah itu, ketika hari sudah mulai sore, aku keluar rumah dan mengajak teman-temanku untuk bermain bola. Lagi. Di sela-sela pertandingan, terkadang ada seorang ustad yang menghampiriku dan memintaku untuk membaca beberapa pelajaran mengaji. Mungkin lebih familiar dengan sebutan ngaji privat. Karena aku tak begitu banyak memiliki banyak pilihan, aku pergi ke rumah dan membaca satu atau dua halaman buku Iqro’. Setelah itu, setelah aku tak begitu memusingkan nilai apa yang diberikan kepadaku, aku berlari ke lapangan dan kembali lagi bermain bola. Sebelum langit gelap, aku enggan untuk beranjak dari lapangan. Aku begitu menikmati bagaimana aku menghabiskan waktu kala itu. Pagi? Sudah. Sore? Sudah. Sudah? Belum. Di malam hari, aku juga seringkali bermain bola. Biasanya tepat setelah pertandingan bola Liga Inggris bubar. Dengan kaus long-sleeve, aku berangkat ke lapangan dan berasa seperti pemain profesional yang baru saja kutonton barusan. Gila bola inilah yang mungkin membuatku tak kunjung gemuk. Terakhir kali aku gemuk, aku masih berusia tiga tahun atau kurang. Lebih dari itu, aku begini-begini saja. Ya, minimal, aku cocok dengan iklan susu Hi-Lo, tumbuh itu ke atas, bukan ke samping. Apakah aku Hi-Lo radikal?

Sabtu, 18 Maret 2017

Ludah Roni dan Debu di Pipinya

Siang itu, aku melihat beberapa bocah bersepeda dan saling pamer kemampuan mengendarai sepedanya. Semacam pesepeda profesional saja. Yang terpenting adalah ketika mereka tidak takut akan bahaya yang mungkin akan terjadi. Mulai dari kaki terkilir, sampai kepala terbentur tiang bendera. Benar, saya tidak mengada-ada. Beberapa tahun lalu, saya mendapati seorang kawan yang tak kuasa berdiri karena ban depan dari sepeda yang ditungganginya copot tepat beberapa meter sebelum ia melintasi tiang bendera. Tengkorak mungil, diadu dengan tiang besi yang angkuh. Teman saya rubuh.
Bahagia, senang, bersorak-sorai. Bocah memang seperti itu. Pipi kananku menarik bibirku. Aku tersenyum.
Aku menyusuri memoriku. Memori-memori buruk—dosa—bertebaran dan tersenyum jahat kepadaku. Aku tak bergeming. Sampailah aku pada memori-memori masa lalu, terkena minyak mendidih punya tukang cilok goreng di SD, kencing di kolam kaki musala, menangis karena terjatuh lalu diberikan tendangan penalti sebanyak tujuh kali, dan banyak lagi. Selain hal-hal miris itu, banyak sekali aku merindu ke Ibu. Memang dalam memori-memori indah itu, banyak sekali muka Ibu berserakan. Mungkin karena aku sudah terlalu lama tidak kirim doa untuknya. Boro-boro berdoa, qunut saja, hampir lupa aku susunannya. Ah, Ibu, aku rindu. Tapi seakan tak mungkin jika aku akan mengulangi hal-hal itu di masa kini. Aku sudah kalah dengan egoku sendiri. Aku masih malu dengan Ibu yang masih tak kunjung bahagia dengan keberadaanku. Tiap bulan kasih uang saku, tiap bulan tabunganku hanya segitu. Bapak juga begitu. Aku lupa kapan terakhir kali aku bercengkerama hangat dengannya. Biasanya memang hanya seucap dua ucap. Ia kubuat menjadi hanya sekadar alaram pengingat sembahyang buatku ketika berada di rumah. Di luar rumah? Eh eh, tidak usah dibahas.
Debu berterbangan di lapangan. Beberapa siswa bermain voli di sana. Anak-anak itu tak gentar. Mereka bermain saja. Tetap bermain. Aku masih berdiri di balkon. Roni di dekatku tetap berbicara. Sesekali aku berdehem tanda setuju. Tanpa harus tahu apa yang sedang ia bicarakan. Ia semakin semangat. Aku makin tak enak hati. Aku berbalik badan dan mulai membalasi obrolannya. Obrolan kami biasa saja. Ya, hanya itu. Cerita kami tidak begitu menarik. Selain tidak seru, juga terlalu saru.
Aku masih saja mengingat-ingat dan sedikit tersenyum karena aku ingat suatu sore aku bersama Ibu berada di teras rumah. Halaman rumah kami mendadak menjadi semacam kali cukup besar bagi hewan seukuran tikus. Aku yang saat itu baru bisa membuat kapal dari kertas, berinisiatif untuk melayarkan kapal kertasku di atas air yang sedang deras itu. Aku berlari ke kamar dan menyobek beberapa lembar kertas. Ibu meminta beberapa lembar yang lain. Aku berikan kepadanya. Kami membuat kapal dari kertas. Punya Ibu nampaknya bisa berlayar dengan stabil selagi kapalku terlihat doyong melawan derasnya ombak. Aku tetap senang. Air itu menyenangkan. Hujan saat itu begitu indah.
Aku mengumpat sejadi-jadinya. Hujan deras tepat beberapa menit sebelum kelasku usai. Aku mengumpat seribu bahasa. Selain aku lapar, aku sudah tidak tahan untuk keluar. Kampusku serasa enam belas kali lipat sumpeknya daripada pesantrenku. Entah dari mana aku bisa memberi kesimpulan bahwa rasionya adalah enam belas, yang penting aku sudah tidak tahan. Aku mengadu pada Tuhan, tapi Ia tak mau tahu. Siapa aku, juga. Aku masih mencoba percaya bahwa hujan akan segera bubar. Aku mencoba percaya. Aku masih percaya. Tapi akhirnya kelas usai, dan hujan masih saja deras. Angin kencang melewati kelasku dan kulihat ia menjulurkan lidahnya kepadaku. Bangsat, umpatku lagi. Harapan indahku ketika masih baru akan pergi ke kelas tiba-tiba basah. Tiba-tiba kopiku dingin kehujanan. Rokokku mati diludahi langit. Lalu aku sadar aku masih berada di dalam kelas. Tak bergerak sedari setengah jam yang lalu. Hanya berjarak beberapa milimeter dari memori hujan yang mesra, berdiri memori hujan yang membikinku sengsara. lalu kubuang begitu saja.

Roni masih berbicara kepadaku. Dan debu di lapangan itu, memaksaku untuk kedinginan.

Senin, 13 Maret 2017

Sora Aoi dan Para Sofis

Di salah satu pertunjukan stand-up comedy milik Pandji, entah apa nama pertunjukannya. Pandji ngomong, “ketika ganja dilarang karena menyebabkan candu, harusnya rokok juga dilarang dong? Ketika ganja dilarang karena bikin lepas kendali, harusnya minuman beralkohol juga, dong?”.

Yang menjadi perhatian saya di situ adalah candu, dan mabuk atau lepas kendali.

Setelah belasan tahun saya hidup, (iya, saya sudah 19 tahun, saya pakai belasan biar dikira masih 15 atau 16 saja, nyolong umur) saya seringkali menemui candu saya. Begitu pula dengan ketidakmampuan saya mengendalikan diri sendiri. Saya juga melihat banyak sekali orang di lingkungan saya yang juga mempunyai candu mereka sendiri. Sebenarnya, candu itu sama sekali relatif. Tiap karakter orang ditunggangi oleh candu mereka sendiri-sendiri. Perokok, tentu saja mereka—termasuk saya—ditunggangi oleh rokok-rokok mereka. Orang kaya, bisa jadi ditunggangi keinginan-keinginan rakus mereka. Orang miskin, ditunggangi orang-orang kaya. Penikmat film bokep, bisa jadi ditunggangi selangkangan-selangkangan Sora Aoi atau banyak lainnya. Contoh nomor dua dari terakhir adalah tidak tepat, hanya saja saya iri dengan orang kaya, karena saya tak kunjung kaya. Ahsudahlah. Intinya, banyak sekali hal yang membikin candu. Game, rokok, uang, gadis cantik, dan buku adalah beberapa hal yang saya sudah bertemu dengan orang-orang yang candunya adalah hal-hal tersebut. Izinkan saya berasumsi, jika ada hal yang berhasil menunggangi kita, kita akan menyebut mereka sebagai kepentingan, kebutuhan, dan bahkan kewajiban. Nah, sampai pada saat ini, candu akan kemudian membawa kita ke dalam ruangan di mana mereka yang mengendalikan kita. Kita akan masuk kepada di mana, secara teori, kita mabuk. Dan ketika kita mabuk, kita lupa akan Tuhan. ASTAGHFIRULLAH! TOBAT KLEAN!

Baiklah, kita lanjutkan.

Sampai mana tadi?

Jika saya menggunakan logika Jonru yang—mungkin—sudah ustad itu, maka saya akan memberikan kesimpulan seperti ini; mabuk adalah haram, maka orang yang menolak disebut sebagai bukan pemabuk juga haram.

Jika saya adalah Sofis Yunani, mungkin saya akan berorasi seperti ini; “dahulu kala, tempat ini adalah tempat di mana para lelaki melakukan masturbasi, setelah salah tahu dari mereka kedapatan menyetubuhi keledai, mereka sadar bahwa kebiasaan mereka adalah dosa, lalu mereka menutup tempat ini dengan segera dan kembali ke istri-istri mereka”. Lalu salah satu pengikutnya menanyakan akan hal ini, “bukankah desa ini dulunya hanyalah hutan?”. Dan saya akan pura-pura budheg dan menganggap mereka bodoh.

Saya juga hidup dengan candu saya yang masyaallah sulitnya untuk dilepas. Dan saya masih kesulitan untuk menemukan manusia yang tidak dalam pengaruh candu apapun. Apakah itu salah satu dari kalian? 

Lagi, baiklah. Saya hanya ingin menulis tentang candu ini. Karena sudah tentu candu yang tidak kita sadari jelas lebih berbahaya daripada candu-candu yang di situ dituliskan bahwa mereka menyebabkan kecanduan. Karena kita akan terus-menerus menikmati candu tersebut, tanpa ada rasa sesal lalu ingin taubat. Ah, eek kebo. Saya makin ngelantur. Sudah. Pesan moral yang mungkin tidak sadar dan sengaja saya tulis tadi tentu saja saya menulisnya ketika mabuk, tidak usah dianggap serius, apalagi dianggap menggurui, wong saya salat Subuh saja masih Senin-Kamis, kok.

Buat kalian yang belum tau Sora Aoi, lupakan dia, jauh sebelum kalian tahu enaknya ditunggangi olehnya.

Minggu, 01 Juni 2014

Kejahatan Samar nan Kejam

Kejahatan tidak melulu soal pisau dan parang, bahkan kejahatan yang tidak kenal pisau dan parang lebih jahat dan garang
***

Minggu, 25 Mei 2014

و لا عدوان إلا على الظالمين

Betapa indahnya
***
                Diceritakan, beberapa zaman yang lalu. Pada saat tablet—yang obat—pun masih sangat asing dengan bangsa ini. Diceritakan bahwa ada seorang kiai muda yang sowan kepada kiai sepuh. Dalam kunjungannya, beliau meminta doa restu dan cara agar angan-angan beliau—kiai muda—itu tercapai. Angan-angan apa? Membuat seluruh rakyat Indonesia menjadi muslim. Semuanya. Lalu kiai sepuh itu bergegas mengambil al-Qur’an di dekatnya dan lantas membukanya. Beliau—kiai sepuh—memberikan Qur’an tersebut kepada kiai muda, dan berkata, “Mas, kalau sampeyan ingin angan-angan sampeyan tercapai, 

Kamis, 22 Mei 2014

Didik, atau Ajar?

                Dalam satu kesempatan, saya berkesempatan ngaji bareng KH. Mustofa Bisri. Dalam pengajiannya, beliau menyinggung banyak tentang kependidikan. Dan salah satu bahasannya adalah yang selama itu menghantui saya. Pendidikan di Indonesia, itu sebenarnya belum/kurang tepat. Kurang tepat karena namanya adalah pendidikan, tapi nyatanya yang ada di lembaga-lembaga—yang mereka sebut—pendidikan, hanyalah pengajaran. Pendidikan dan pengajaran ini  dua hal yang berbeda jauh lho. Pendidikan, dengan kata dasar didik, artinya pendidikan itu adalah di mana guru mendidik muridnya. 

Matematika. Logika dan Bahasa

Mungkin inilah penyebab utama
***

                Dalam pendidikan, masa-masa awal adalah masa yang paling penting untuk diperhatikan. Karena di situlah fondasi mulai ada. Dan fondasi tersebut akan mengantarkan kita ke mana kita akan berjalan. Di atas fondasi tersebut akan dibangun warung kelontong atau menara besar. Akan dibangun apartemen besar dan kokoh atau rumah ibadah. Dibangun gubuk ataukah sekolah. Seenak kita saja membangunnya,  yang penting cocok dengan fondasinya. Jika kita dari awal sudah mantap memilih fondasi untuk rumah ibadah, ya kita mau tidak mau kita tidak bisa membangun menara yang lebih tinggi dan berat. 

Rabu, 21 Mei 2014

Bahasa

Bahasa itu .. Alat paling canggih. Agree?
***
            Jauh saya tengok ke masa lalu, ada ingatan jelas tentang bagaimana—saat itu—guru saya memulai kegiatan belajar bahasa asing saya—bersama teman-teman tentunya—dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan ringan dan sepele. “Apa bahasa itu?”, begitu kira-kira beliau bertanya. Saya sontak diam, tertegun dan tenggelam dalam lamunan saya. Bukan karena pertanyaan itu sulit atau apa, saya justru kagum dan terbuai oleh bahasa itu sendiri. Betapa bahasa itu luas dan dalam. Coba konsentrasikan otak kalian kepada ‘bahasa’. Coba bayangkan, pikir, dan renungkan, apa bahasa itu? Ada berapa banyak bentuk dan aplikasi bahasa yang muncul dalam otak kita setelah sebentar saja merenung tentang bahasa. Banyak sekali penjelasan yang muncul dari otak kita. Sangat banyak. Tapi hanya sedikit—mungkin—yang dengan yakin mampu menjawab dengan kata-kata, apa itu bahasa. Dan setelah kalimat tadi, beberapa dari kalian mencoba untuk mengatakan isi otak kalian, dan kalian sudah coba berbicara .. dan berbicara .. dan kalian merasa ingin lagi-lagi menambahkan keterangan yang terus bermunculan di otak kalian. Dan kalian ingin terus berbicara tentang apa itu bahasa. Tak ada habisnya memang jika dibicarakan. Sangat banyak pendapat tentang apa itu bahasa. Dan kita akan semakin bingung dan bingung .. apa sebenarnya bahasa itu sih? Hmm .. beberapa kalimat terakhir yang coba menebak apa yang kalian lakukan adalah kemungkinan yang saya lihat. Mungkin salah, dan mungkin benar adanya. Jika salah, Yaaa .. karena itulah saya hanya bisa menulis di blog. Jika semuanya benar, saya tidak mungkin nganggur lalu menulis di sini. Jadi mentalist saja. Heuheu.

Senin, 19 Mei 2014

Errr ..



Saya hanya sebal. Sebal sekali. Hmm .. sebal itu bukan ‘hanya’ sih. Heuheu. Mungkin karena saya agak ambisius dan perfeksionis, jadi seringkali sebal. Mudah sebal. Sebal. Sebal.
***
                Adakah di sini—para pembaca—yang merasa kurang sreg dengan—mereka sebut sih—pendidikan—yang sebenarnya lebih pantas disebut pengajaran—formal di sekitar kita? Di negeri ini? Formal itu berarti tertata, terorganisir, dan diakui oleh lembaga formal—resmi—negara. Adakah? Atau hanya saya? Karena keambisiusan saya saja mungkin ..
                Yang membuat saya sebal dan gemas pada—yang katanya—pendidikan—padahal pengajaran—adalah .. keegoisan yang membuat sikap memaksa untuk melaksanakan sesuatu, padahal banyak hal yang harusnya dirapikan, diselesaikan, dituntaskan terlebih dahulu. Seharusnya tidak usah memaksakan kehendak untuk sesuatu tertentu yang akhirnya meninggalkan dan melupakan hal-hal vital yang masih mengambang.

Masih tidak jelas kalimat-kalimat yang  kalian baca, mungkin. Mari saya lebih jelaskan.

Kamis, 15 Mei 2014

Islam, dan Yang Lain



Islam, secara bahasa ialah selamat. Selamat diambil dari kata Salima yang berarti selamat yang akhirnya dari Salima itu terbentuk kata aslama yang berarti patuh, tunduk, atau menyerahkan diri. Dan secara istilah, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan barlaku bagi seluruh manusia (dan bahkan seluruh alam), di manapun, dan kapanpun. Dan itulah sebagaimana Islam yang kita tahu dan telah kita jalani selama ini—dan semoga sampai mati.
Di sini tentu saya tidak akan mengolok-olok agama lain sebagai agama seperti yang orang-orang di dunia maya lakukan. Marilah bersama menjadi bangsa yang benar-benar bermartabat. Di sini hanya akan ada opini singkat tentang bagaimana—sebagai agamis—menyikapi adanya begitu banyak perbedaan yang akan kita hadapi. Mengapa di sini tidak akan ada olok-olok terhadap agama lain? Tentu bukan karena saya adalah orang yang tidak yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Lalu mengapa? Karena olok-olok itu memang tak perlu disisipkan di sini. Tak berfaedah. Karena toh mereka juga tidak akan mengalah terhadap kita. Akan terjadi pertarungan ego yang tidak akan ada habisnya. Di sini juga tidak akan berfaedah jika penulis akan menunjukkan kelemahan-kelemahan agama lain. Karena toh mereka tidak—mau—membaca tulisan ini, atau tidak—percaya—setelah mereka membaca tulisan ini. Karena—sekali lagi—egoisme. Dan jika para pembaca masih saja ingin membaca olok-olok dan hinaan kepada umat lain, di dunia maya tersedia berjuta-juta kata untuk itu. Dan di situ banyak juga kesalahan dan kelemahan pada agama mereka. Jika para pembaca inginkannya, maaf di sini tak ada.

Selasa, 29 April 2014

Syukur, Syukur!

Bahagia itu mudah. Kata para pemikir khusus, bahagia itu sederhana. Bagi kami—para manusia malam—bahagia itu mudah. Dan kebahagiaan kami tidak sesederhana kebahagiaan mereka. Kebahagiaan kami lebih kompleks, lengkap nan menawan. Kebahagiaan kami didapat dengan cara yang lebih sederhana dari mereka.
            Kebahagiaan dalam diri kami sangatlah mudah didapat, itu karena kehidupan kami memang melulu soal bagaimana bahagia dan tidak mengeluh. Mereka—manusia khusus—bersulit-sulit untuk untuk ‘dapatkan’ kebahagiaan—yang padahal ada setiap saat. Yaaa, karena mereka terus mempermasalahkan masalah-masalah yang mereka buat sendiri. Mereka setiap harinya juga belajar, bekerja dalam tekanan. Bak hidup dalam panci presto.

Pemikir Khusus vs Pemikir 'Biasa-Biasa Saja'

Dunia insomnia itu indah sekali. Seindah pemikiran para penduduknya di sana. Jauh sekali berbeda dengan dunia para pemikir khusus pagi sampai siang. Mengapa khusus? Ya karena mereka jarang atau mungkin tidak pernah berpikir di luar waktu itu. Para pemikir khusus ini, kebanyakan para pemikir yang—berpura-pura—berpikir hal-hal yang sangat banyak. Dan kebanyakan disebabkan oleh ketidaktahuan mereka dengan pondasi hal-hal yang harus dipikirkan itu. Hmm .. banyak juga yang—pura-pura—berpikir agar dia tetap dianggap dalam suatu komunitas tersebut. Konsekuensi jahat nan tidak adil telah mengadili mereka bertahun-tahun lamanya. Dalam sistem pemikiran mereka, mereka harus menempuh waktu tertentu untuk belajar dan mendapatkan sertifikasi untuk dipajang di tempat tinggal mereka. Sebelum mendapatkan pajangan itu, mereka berkali-kali mendapatkan hari-hari khusus untuk berpusing di dalamnya. Mereka dicerca pertanyaan-pertanyaan yang isinya menanyakan beberapa hal yang dia—pura-pura—pikirkan beberapa waktu sebelumnya. Mereka harus mengingat-ingat hal-hal itu. Pada periode ini, mereka dalam fase sulitnya. Yaa, karena hal-hal yang mereka pikirkan itu jarang atau tidak pernah mereka ingat-ingat dan pikirkan sehari-harinya. Karena kesalahan mereka sendiri itu, tak ayal mereka mengeluh di sana-sini. Yaa mereka mengeluh karena mereka berpikir atas dasar bukan pemikiran mereka. Heuheu.

Sabtu, 13 April 2013

Tidak Etis, Atau?




Setelah beberapa hari lalu melihat mading sekolah, atau tepatnya karikaturnya saja. Yang isinya perbedaan—atau lebih tepatnya perbandingan—antara guru lama/kuno dengan guru modern. Guru kuno digambarkan sebagai berikut: Kemeja lusuh, begitu juga dengan celananya, ditakuti murid, motor butut, tidak sehat, tidak digaji tetap, tidak sejahtera. Sedangkan guru modern digambarkan: mobil sport, kemeja bagus, tidak beda keren dengan celananya, tablet PC, smartphone, wajah menarik, digemari murid, rambut stylish, badan kekar, gaji tetap, sejahtera. Saya agaknya merasakan keganjilan di situ, yakni sangat jelas bahwa gaji, disandingkan dengan kesejahteraan. Salah satu bukti bahwa kita masih materialistis. Inilah yang ada sekarang, semua dibandingkan dengan uang. Memang salah satu sebab kesejahteraan adalah uang, tapi apakah tidak cukup etis kita membanding-bandingkan dua pahlawan yang sudah jelas hidup di masa yang berbeda? Guru kuno/dulu, memang hidup dengan sedemikian sederhana, karena memang masanya begitu. Guru kuno ditakuti? bukan, beliau disegani, karena kesederhanaan beliau dan sifat tawadhu'nya. Dan pendapat saya, guru kuno/dulu masih lebih superior daripada guru modern, itu ditunjukkan dengan hasil didikan beliau yang memang agak jauh perbedaannya. Bisa jadi itu karena kesederhanaan beliau dalam mengajar. Itu bisa menjadi contoh yang luar biasa bagi para murid. Tidak seperti penggambaran yang berlebihan tentang guru modern/masa kini oleh pembuatnya. Para guru modern pun agaknya sulit menerima itu, beliau tidak mau seperti itu. Menurut saya juga, itu bisa menjadi penghinaan bagi para guru modern. Karena mungkin tidak sesuai realita. Saya juga berharap itu bukan merupakan hasil pikiran mereka sendiri. Sudah kita ketahui, guru itu panutan, jika saja panutannya seperti apa yang mereka gambarkan, bagaimana dengan para murid? Dalam al-Qur'an dijelasknan, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan".


Sudah Pantaskan Kita?





Miris melihat guru sendiri tidak bisa mem-posisikan diri sebagai guru SMA, mungkin masih terbawa aroma bocah SD. Tapi sebagai professional, bahkan sedah mengajar di sekolah lebih dari 5 tahun, hal seperti itu adalaha hal yang tabu. Bagaimana bisa? Temen-temen saya saja bisa mengajar adik-adiknya dengan baik. Jika sistem pengajaran seorang guru tidak dikembangkan dengan baik, para murid akan bosan dan sulit menerima pelajaran. Belum lagi tanggungan guru di Madrasah. Di Madrasah guru itu dapat amanah, tidak mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban, atau bahkan—na’udzubillah—hanya untuk memeroleh beberapa peser uang.